![]() |
| Dua tokoh berbeda latar belakang, satu janji yang menyelamatkan harapan Balai Pustaka |
Kadang sejarah tidak lahir dari ruang rapat yang mewah. Ia justru muncul dari obrolan santai, secangkir kopi, dan kegelisahan seseorang yang takut kehilangan kenangan.
Begitulah suasana ketika sejumlah mantan wartawan Tempo berkumpul di rumah dinas Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan, di Widya Chandra IV Nomor 15 Jakarta.
Di tengah obrolan yang mengalir, tiba-tiba muncul satu nama yang membuat suasana berubah menjadi serius: Balai Pustaka.
Nama itu diucapkan oleh Linda Djalil.
Bukan tanpa alasan.
Bagi generasi yang tumbuh sebelum era internet, Balai Pustaka bukan sekadar perusahaan penerbitan. Ia adalah rumah bagi banyak karya sastra Indonesia. Dari Sitti Nurbaya hingga Salah Asuhan, dari buku pelajaran hingga bacaan rakyat, Balai Pustaka pernah menjadi salah satu pilar literasi bangsa.
Namun ketika itu kondisinya memprihatinkan.
Linda Djalil mengaku sedih. Bahkan, menurut cerita yang berkembang, ia mengatakan akan terus menangis jika Balai Pustaka sampai ditutup.
Dahlan Iskan mendengar.
Lalu menjawab dengan gaya khasnya yang lugas.
"Balai Pustaka itu sebenarnya sudah mati hampir sepuluh tahun. Tinggal dikubur saja."
Kalimat itu keras.
Mungkin terlalu keras.
Tetapi justru karena keras itulah kalimat tersebut terasa jujur.
Dahlan tidak sedang berbicara sebagai romantikus sastra. Ia berbicara sebagai Menteri BUMN yang melihat angka-angka laporan keuangan.
Di atas kertas, Balai Pustaka memang seperti pasien yang sudah lama berada di ruang ICU.
Namun Linda tidak menyerah.
Ia tetap berargumen.
Tetap membela.
Tetap percaya bahwa Balai Pustaka masih bisa hidup.
Di situlah cerita menjadi menarik.
Karena terkadang sebuah institusi tidak hidup karena uang.
Ia hidup karena masih ada orang yang mencintainya.
Linda Djalil dan Cinta yang Tidak Bisa Dihitung dengan Neraca
Linda Djalil bukan tokoh sembarangan.
Ia adalah wartawan senior yang telah puluhan tahun hidup bersama berita, fakta, dan berbagai peristiwa besar bangsa.
Tetapi yang menarik, Linda bukan hanya wartawan.
Ia juga penulis.
Dan mungkin itulah yang membuatnya melihat Balai Pustaka dengan cara berbeda.
Seorang birokrat melihat aset.
Seorang akuntan melihat laporan keuangan.
Seorang penulis melihat sejarah.
Linda melihat Balai Pustaka sebagai bagian dari memori kolektif bangsa.
Bagi dirinya, membiarkan Balai Pustaka mati sama saja dengan membiarkan sebagian sejarah Indonesia terkubur.
Pandangan seperti ini mungkin terdengar sentimental.
Namun tidak selalu salah.
Justru banyak negara maju mempertahankan institusi budaya mereka bukan karena menguntungkan secara bisnis, tetapi karena memiliki nilai peradaban.
Amerika Serikat memiliki Library of Congress.
Prancis memiliki Bibliothèque Nationale.
China memiliki National Library of China yang terus mendapat dukungan negara.
Tidak semua institusi budaya dihitung berdasarkan laba-rugi.
Ada yang dihitung berdasarkan warisan.
Dan Balai Pustaka termasuk salah satunya.
Menulis Sepanjang Masa
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Linda Djalil sendiri adalah simbol ketekunan dalam dunia literasi.
Dalam sebuah tayangan ANTARA berjudul "Linda Djalil, Menulis Sepanjang Masa", tergambar bagaimana perempuan ini tetap menulis bahkan ketika banyak wartawan seangkatannya memilih pensiun.
Menulis baginya bukan pekerjaan.
Menulis adalah cara hidup.
Mungkin karena itulah Linda bisa begitu emosional ketika berbicara tentang Balai Pustaka.
Ia tahu bahwa buku bukan sekadar kertas.
Tulisan bukan sekadar tinta.
Literasi adalah cara manusia melawan lupa.
Dan bangsa yang mudah lupa biasanya mudah dipermainkan sejarah.
Karena itu perjuangan Linda mempertahankan Balai Pustaka sebenarnya lebih besar dari sekadar mempertahankan sebuah BUMN.
Ia sedang mempertahankan ingatan.
Celotehan Linda yang Ternyata Tidak Sekadar Celotehan
Saya teringat tulisan lama berjudul "Tergelitik Celotehan Linda".
Di sana tergambar jelas bagaimana Linda memiliki kemampuan unik.
Ia wartawan.
Tetapi gaya menulisnya sering menyerupai sastrawan.
Ia melaporkan fakta.
Tetapi mampu membuat pembaca merasakan emosi.
Ia menulis kritik.
Tetapi sering kali membuat orang tertawa sebelum akhirnya berpikir.
Kemampuan seperti ini tidak lahir dalam semalam.
Ia lahir dari puluhan tahun berinteraksi dengan tokoh, peristiwa, dan realitas kehidupan.
Linda termasuk sedikit wartawan yang mampu berdiri di antara dua matahari.
Matahari jurnalistik dan matahari sastra.
Keduanya sama-sama terang.
Tetapi tidak semua orang mampu berjalan di antara keduanya tanpa terbakar.
Linda berhasil.
Karena itulah pendapatnya tentang Balai Pustaka tidak bisa dianggap sekadar nostalgia.
Ia berbicara sebagai orang yang memahami dunia kata-kata.
Dahlan Iskan dan Naluri Bulldozer
Di sisi lain ada Dahlan Iskan.
Tokoh yang terkenal karena gaya kepemimpinannya yang menyerupai bulldozer.
Jika melihat hambatan, ia tabrak.
Jika melihat masalah, ia bongkar.
Jika melihat peluang, ia kejar.
Karena itu menarik melihat Dahlan akhirnya luluh.
Bukan karena laporan keuangan berubah.
Bukan karena perintah presiden.
Tetapi karena seorang penulis bernama Linda Djalil terus mendesaknya.
Sebelum Linda pulang, Dahlan bahkan berteriak:
"Demi Anda yang mencintai Balai Pustaka, saya akan berusaha keras menghidupkan Balai Pustaka."
Kalimat itu mungkin sederhana.
Tetapi sejarah sering kali bergerak dari kalimat sederhana.
Apakah Janji Itu Terbukti?
Inilah bagian yang menarik.
Jika melihat dari tahun 2013, banyak orang mungkin menganggap janji itu hanya basa-basi.
Bisa benar.
Bisa juga sekadar diplomasi politik.
Tetapi waktu menjadi hakim terbaik.
Hari ini Balai Pustaka masih ada.
Masih hidup.
Masih beroperasi.
Masih menerbitkan karya.
Masih menjadi bagian dari transformasi BUMN nasional.
Artinya apa?
Setidaknya satu hal.
Balai Pustaka tidak jadi dikubur.
Apakah karena Dahlan Iskan?
Apakah karena Linda Djalil?
Apakah karena pemerintah berikutnya?
Mungkin kombinasi semuanya.
Sejarah jarang bekerja sendirian.
Komentar Netizen: Balai Pustaka Harus Hidup
Ketika kisah Balai Pustaka kembali ramai dibahas di media sosial, muncul berbagai komentar menarik.
Akun @LiterasiNusantara menulis:
"Kalau Balai Pustaka mati, kita kehilangan salah satu akar sastra Indonesia."
Akun @AnakPerpus menulis:
"Banyak orang baru sadar pentingnya Balai Pustaka setelah hampir hilang."
Akun @GuruMembaca menulis:
"Yang dibutuhkan bukan monopoli buku pelajaran, tetapi inovasi dan digitalisasi."
Komentar-komentar ini menunjukkan satu hal.
Masih banyak orang yang peduli.
Dan selama masih ada yang peduli, harapan selalu ada.
Tantangan Masa Depan
Meski berhasil bertahan, pekerjaan Balai Pustaka belum selesai.
Tantangan sekarang bukan lagi soal hidup atau mati.
Melainkan relevan atau tidak relevan.
Generasi muda membaca melalui ponsel.
Artificial Intelligence mulai membantu menulis.
Konten video lebih digemari daripada buku.
Dunia berubah sangat cepat.
Jika Balai Pustaka hanya mengandalkan romantisme masa lalu, ia akan tertinggal.
Tetapi jika mampu bertransformasi, ia bisa kembali menjadi pemain penting dalam ekosistem literasi Indonesia.
China berhasil melakukan digitalisasi perpustakaan nasional.
Amerika mengembangkan arsip digital terbuka.
Korea Selatan mengintegrasikan budaya baca dengan teknologi.
Indonesia pun memiliki peluang yang sama.
Pertanyaannya bukan apakah Balai Pustaka bisa hidup.
Pertanyaannya adalah apakah Balai Pustaka bisa kembali menjadi pemimpin.
Balai Pustaka dan Pelajaran tentang Harapan
Kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang Balai Pustaka.
Ini adalah cerita tentang harapan.
Tentang bagaimana satu orang bisa mempengaruhi keputusan besar.
Tentang bagaimana seorang wartawan senior tetap memperjuangkan apa yang ia cintai.
Tentang bagaimana seorang menteri yang terkenal keras ternyata masih bisa mendengarkan suara hati.
Linda Djalil mungkin tidak pernah membayangkan bahwa celotehannya suatu hari akan menjadi bagian dari perjalanan Balai Pustaka.
Dahlan Iskan mungkin tidak pernah menyangka bahwa janji spontan yang diucapkannya akan terus diingat bertahun-tahun kemudian.
Tetapi begitulah sejarah bekerja.
Ia sering lahir dari percakapan kecil yang dianggap sepele.
Dan pada akhirnya, seperti kata peribahasa lama, "api yang kecil jangan diremehkan, sebab darinyalah kadang lahir cahaya yang menerangi kegelapan."
Lalu pertanyaannya sekarang:
Jika suatu hari nanti generasi muda Indonesia berhenti membaca, apakah Balai Pustaka yang akan kehilangan pembacanya, atau justru bangsa ini yang kehilangan masa depannya? (Tim Redaksi Coretan Politik)
FAQ
1. Apa itu Balai Pustaka?
Balai Pustaka adalah penerbit milik negara yang berdiri sejak 1917 dan berperan besar dalam sejarah literasi Indonesia.
2. Mengapa Dahlan Iskan ingin menghidupkan Balai Pustaka?
Karena banyak pihak, termasuk Linda Djalil, menilai Balai Pustaka memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting.
3. Siapa Linda Djalil?
Wartawan senior Indonesia yang dikenal sebagai penulis, blogger, dan pegiat literasi.
4. Apakah Balai Pustaka masih ada sampai sekarang?
Ya, Balai Pustaka masih beroperasi dan menjadi bagian transformasi BUMN.
5. Apa tantangan terbesar Balai Pustaka saat ini?
Digitalisasi, perubahan perilaku membaca, dan persaingan konten digital.
Sumber Resmi
Catatan Redaksi
Artikel ini merupakan karya naratif yang memadukan fakta sejarah, dokumentasi media, serta interpretasi penulis terhadap peristiwa yang melibatkan Linda Djalil, Dahlan Iskan, dan Balai Pustaka. Beberapa bagian berupa analisis dan tafsir untuk memperkaya perspektif pembaca. Pembaca disarankan merujuk sumber resmi untuk memperoleh konteks yang lebih lengkap dan berimbang.

Komentar (0)